
Siapa tak kenal Si Pitung? Sosok legendaris dari tanah Betawi ini muncul sebagai jagoan yang membela rakyat kecil dan menentang ketidakadilan penjajahan Belanda di Batavia pada abad ke-19. Dengan kisah yang bercampur antara fakta dan legenda, mengenang sejarah Si Pitung adalah upaya untuk memahami perlawanan lokal yang sering kali terlupakan dalam narasi sejarah nasional.
Si Pitung bukan sekadar tokoh dongeng, tetapi simbol perjuangan rakyat miskin terhadap penindasan. Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk bangkit dan melawan ketidakadilan, baik pada masa lalu maupun masa kini.
Asal Usul dan Kehidupan Awal Si Pitung
Dalam usaha mengenang sejarah Si Pitung, kita harus mulai dari latar belakangnya. Si Pitung lahir sekitar tahun 1866 di Rawa Belong, Batavia (sekarang Jakarta Barat). Orang-orang mengenalnya sebagai Pitung, meski nama aslinya Salihoen. Dalam bahasa Betawi, ‘Pitung’ berasal dari istilah ‘pituan pitulung’ yang berarti tujuh orang penolong.
Sejak kecil, Pitung dikenal sebagai anak yang cerdas dan taat beragama. Ia belajar mengaji dan ilmu bela diri silat di pesantren. Didikan agama dan rasa keadilan yang tinggi membuatnya tidak tahan melihat ketimpangan sosial dan penindasan oleh aparat kolonial serta tuan tanah.
Si Pitung: Pahlawan atau Penjahat?
Saat mengenang sejarah Si Pitung, muncul dua versi yang cukup kontras. Di mata rakyat Betawi, Pitung adalah pahlawan. Ia sering merampok hartawan yang bersekongkol dengan Belanda, lalu membagikan hasilnya kepada kaum miskin. Ia ibarat Robin Hood versi Betawi.
Namun, dalam catatan pemerintah kolonial Belanda, Si Pitung disebut sebagai penjahat atau bandit. Mereka menganggap aksinya mengganggu stabilitas dan menantang kewibawaan kekuasaan Belanda.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa sejarah selalu punya dua sisi, tergantung siapa yang menulisnya.
Perlawanan Si Pitung dan Aksi Legendarisnya
Si Pitung tak bekerja sendiri. Ia memiliki beberapa rekan, di antaranya Dji-ih dan Rais. Mereka membentuk kelompok yang melakukan perampokan terencana ke rumah-rumah orang kaya keturunan Arab dan Cina yang dianggap menindas rakyat kecil.
Konon, Si Pitung sangat sulit ditangkap karena memiliki ilmu kebal. Ia bisa menghilang, mengelabui penjajah, dan lolos dari pengepungan. Salah satu kisah legendarisnya adalah saat ia berhasil kabur dari penjara Belanda di Meester Cornelis (kini Jatinegara).
Akhir Perjuangan Si Pitung
Catatan Belanda menyebut bahwa pada tahun 1893, komandan polisi Hinne Bouman menembak mati Si Pitung dengan peluru emas — yang diyakini sebagai satu-satunya cara untuk menembus ilmu kebalnya.
Namun, banyak masyarakat Betawi percaya bahwa Pitung tidak mati, melainkan menghilang secara gaib. Sekali lagi, antara fakta dan mitos menyatu dalam narasi sejarahnya.
Warisan dan Relevansi Si Pitung di Era Modern
Mengenang sejarah Si Pitung bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi juga merefleksikan perjuangan melawan ketidakadilan sosial. Si Pitung menginspirasi semangat perlawanan terhadap penindasan, korupsi, dan ketimpangan yang masih relevan hingga kini.
Figur Pitung banyak diabadikan dalam cerita rakyat, teater lenong, film, bahkan dijadikan nama jalan dan sekolah di Jakarta. Namun, sosoknya menjadi simbol perlawanan lokal yang membumi dan dekat dengan rakyat jelata.
Kesimpulan: Si Pitung, Simbol Keberanian Rakyat Kecil
Mengenang sejarah Si Pitung mengajak kita untuk melihat pahlawan dari perspektif rakyat kecil. Terlepas dari mitos atau kenyataan, Pitung adalah simbol perjuangan yang nyata — perlawanan yang muncul dari lorong-lorong sempit kampung dan bukan dari istana.
Baca Juga : Mengingat Kembali Sejarah Perang Dunia II.